Baterai Mobil Listrik Bisa Terbakar? Ini yang Perlu Anda Tahu

Beberapa bulan lalu saya menulis tentang bagaimana 109 ribu mobil listrik bisa membebani jaringan listrik Indonesia. Tapi ada pertanyaan lain yang sering ditanyakan: “Baterai EV itu aman nggak? Katanya bisa meledak?” Pertanyaan yang sangat wajar — dan saya ingin menjawabnya dengan jujur, berdasarkan fakta ilmiah, bukan sekadar menenangkan.

Catatan: Tulisan ini merupakan rangkuman dari berbagai sumber jurnal ilmiah yang saya cantumkan di bagian referensi. Tujuannya agar informasi yang ada di jurnal bisa dibaca oleh semua orang, bukan hanya kalangan akademisi.

“Di dunia ketenagalistrikan, risiko bukan sesuatu yang ditakuti — melainkan sesuatu yang dipahami, dipetakan, dan dikelola.”

Apa Itu “Thermal Runaway” — Bahaya Terbesar Baterai EV

Baterai lithium-ion yang ada di mobil listrik menyimpan energi dalam jumlah besar. Selama digunakan dengan benar, baterai ini aman. Tapi ketika ada sesuatu yang salah — entah karena panas berlebih, benturan keras, atau pengisian yang tidak tepat — bisa terjadi apa yang oleh para ilmuwan disebut thermal runaway.

Sederhananya: baterai mulai memanas, panas itu memicu reaksi kimia yang menghasilkan panas lebih banyak lagi, dan seterusnya seperti efek domino yang tidak bisa dihentikan. Dalam kondisi terparah, suhu baterai bisa mencapai 700–1.000°C dalam hitungan detik — lebih panas dari lava gunung berapi.

PROSES THERMAL RUNAWAY — EFEK DOMINO BATERAI TAHAP 1 — NORMAL Baterai Bekerja Normal ~25–45°C Picu TAHAP 2 — PEMICU Panas, Benturan atau Overcharge 80–150°C Eskalasi TAHAP 3 — KRITIS Reaksi Berantai Tidak Terkendali 200–400°C Separator meleleh Tak bisa dihentikan THERMAL RUNAWAY 700–1.000°C dalam hitungan detik Gas beracun + kebakaran Sumber: Feng et al., Energy Storage Materials (ScienceDirect) Sheng et al., MDPI Batteries Vol.12 No.3 (2026) “Thermal runaway terjadi pada 1 dari beberapa ratus ribu siklus pengisian — jauh lebih jarang dari kebakaran kendaraan berbahan bakar minyak.” — CTIF, International Association of Fire Services (2025)
Ilustrasi proses thermal runaway baterai lithium-ion — dari kondisi normal hingga eskalasi suhu ekstrem

Apakah ini berarti mobil listrik berbahaya? Tidak sesederhana itu. Riset dari CTIF (International Association of Fire Services) menunjukkan bahwa kebakaran EV jauh lebih jarang dibandingkan kebakaran kendaraan berbahan bakar minyak secara proporsional. Yang membedakannya adalah cara kebakaran itu terjadi — lebih sulit dipadamkan dan lebih banyak membutuhkan air untuk didinginkan. [CTIF, 2025]

EV vs Kendaraan BBM: Mana yang Sebenarnya Lebih Berisiko?

Sebelum membahas jenis-jenis risiko pada baterai EV, saya ingin meluruskan satu kesalahpahaman yang paling sering saya temui: banyak orang mengira mobil listrik lebih mudah terbakar daripada mobil bensin. Data ilmiah berkata sebaliknya.

Berikut perbandingan angka kejadian kebakaran per 100.000 unit kendaraan, berdasarkan data AS yang dikompilasi dari laporan NFPA dan analisis data penjualan kendaraan:

Hybrid (PHEV)
3.475 kebakaran / 100rb unit
BBM (ICE)
1.530 / 100rb unit
Listrik (BEV)
25 / 100rb unit

Sumber: AutoInsurance EZ — analisis data NFPA & BTS 2013–2022, dipublikasikan Feb 2024. blazestack.com

Angka itu bukan typo. Mobil listrik mengalami kebakaran sekitar 61 kali lebih jarang daripada mobil berbahan bakar bensin, jika dihitung per 100.000 unit kendaraan. Data dari Swedia memperkuat temuan ini: dari 3.100 total kebakaran kendaraan yang tercatat sepanjang 2024, hanya 40 yang melibatkan EV — padahal EV sudah mencakup lebih dari separuh kendaraan baru yang terdaftar di sana. [EV Energy Hub, 2025]

Di Amerika Serikat, NFPA mencatat kebakaran kendaraan BBM terjadi rata-rata setiap 2–3 menit — ratusan ribu kejadian per tahun — namun hampir tidak pernah jadi berita nasional. EV terbakar jauh lebih jarang, tapi karena masih dianggap hal baru, satu kejadian langsung viral di media sosial. Itulah yang membentuk persepsi yang tidak akurat di masyarakat. [NFPA via Fairfax County, 2026]

Kebakaran EV (per 100rb unit)
25
data AS 2013–2022
Kebakaran BBM (per 100rb unit)
1.530
data AS 2013–2022
Jarak per kebakaran — EV Tesla
130 jt km
1 kebakaran per 130 juta km
Jarak per kebakaran — BBM (rata-rata AS)
19 jt km
data NFPA / US DOT

Tapi ada sisi lain yang perlu jujur saya sampaikan: ketika EV terbakar, memadamkannya jauh lebih sulit. Kebakaran baterai lithium-ion bisa mencapai suhu di atas 650°C dan membutuhkan 20.000–45.000 liter air untuk didinginkan — bandingkan dengan sekitar 1.000 liter untuk kebakaran kendaraan BBM. Waktu pemadaman pun bisa memakan 3–5 jam, versus 30–60 menit untuk kendaraan konvensional. Risiko menyala kembali (re-ignition) setelah tampak padam juga nyata. [Gitnux / NFPA data, 2026]

Aspek KebakaranEV (Baterai Lithium)Kendaraan BBM
Frekuensi kejadianSangat jarang — 25/100rb unitJauh lebih sering — 1.530/100rb unit
Suhu puncak kebakaran650–1.000°C (sangat tinggi)~315°C (lebih dapat dikendalikan)
Kebutuhan air pemadaman20.000–45.000 liter~1.000 liter
Durasi pemadaman3–8 jam30–60 menit
Risiko menyala ulangAda — bisa jam/hari kemudianTidak ada jika bahan bakar habis
Gas beracun yang dilepasHF, CO, gas elektrolit (berbahaya)CO, NOx (berbahaya tapi lebih dikenal)

Sumber: NFPA · Blazestack (2024) · CTIF (2025) · Gitnux EV Fire Statistics (2026)

Kesimpulannya: EV lebih aman dari sisi frekuensi — jauh lebih jarang terbakar daripada kendaraan BBM. Tapi ketika terjadi, penanganannya lebih kompleks dan butuh keahlian khusus. Dua fakta ini harus dipahami bersama-sama, bukan dipilih salah satu untuk mendukung atau menolak EV.

4 Situasi yang Bisa Memicu Masalah pada Baterai EV

Berdasarkan kajian ilmiah yang saya pelajari, ada empat kondisi utama yang bisa memicu kerusakan atau bahaya pada baterai kendaraan listrik:

Risiko Tertinggi
🌡️ Panas Berlebih
Baterai yang terlalu panas — akibat parkir lama di bawah terik matahari atau pengisian fast charging terus-menerus — bisa memicu kerusakan internal yang tidak terlihat dari luar.
Risiko Tinggi
⚡ Pengisian Salah
Mengisi baterai melampaui batas maksimum (overcharge) atau membiarkan baterai sampai habis total (over-discharge) secara berulang bisa merusak sel baterai secara permanen.
Risiko Tinggi
💥 Benturan Keras
Kecelakaan atau benturan keras di bagian bawah kendaraan bisa merusak pack baterai. Kerusakan internal tidak selalu langsung terlihat — bisa muncul beberapa jam kemudian.
Risiko Konteks Indonesia
🌊 Terendam Banjir
Air laut yang masuk ke baterai sangat berbahaya karena kandungan garamnya bisa menyebabkan korosi dalam dan kebakaran tertunda (delayed thermal runaway) hingga beberapa hari setelah banjir surut.

Peringatan khusus untuk pemilik EV di daerah rawan banjir: Jika mobil listrik Anda pernah terendam — terutama air laut — jangan langsung dipakai meski tampak baik-baik saja. Bawa ke bengkel resmi untuk pemeriksaan isolasi baterai terlebih dahulu. Ini bukan mitos — ini prosedur keselamatan standar internasional. [FLASH, 2026]

LFP vs NMC: Mana yang Lebih Aman untuk Iklim Indonesia?

Ada dua jenis kimia baterai yang paling banyak dipakai di kendaraan listrik saat ini: LFP (Lithium Iron Phosphate) dan NMC (Nickel Manganese Cobalt). Keduanya punya kelebihan dan kekurangan — tapi dari sudut keselamatan di iklim tropis Indonesia, ada perbedaan yang cukup berarti.

PERBANDINGAN KESELAMATAN BATERAI: LFP vs NMC Untuk konteks iklim tropis Indonesia (suhu 28–35°C) LFP LITHIUM IRON PHOSPHATE ✓ Titik thermal runaway lebih tinggi: ~270°C ✓ Tidak melepas oksigen saat terbakar ✓ Aman diisi hingga 100% secara rutin ✓ Degradasi lebih lambat di iklim panas ○ Kepadatan energi lebih rendah (jarak lebih pendek) ✓ Pilihan lebih aman untuk Indonesia NMC NICKEL MANGANESE COBALT ○ Titik thermal runaway lebih rendah: ~170°C ○ Melepas oksigen saat terbakar (lebih intens) ○ Idealnya diisi maksimal 80–85% saja ○ Lebih sensitif terhadap suhu tinggi ✓ Kepadatan energi lebih tinggi (jarak lebih jauh) ○ Perlu manajemen termal lebih ketat Sumber: GlobalSpec Electronics360 (2025) · Sunlit Energy (2026)
Perbandingan profil keselamatan baterai LFP dan NMC — baterai LFP memiliki margin keselamatan termal yang lebih lebar untuk kondisi tropis
Titik Kritis LFP
~270°C
lebih aman di cuaca panas
Titik Kritis NMC
~170°C
perlu manajemen termal ketat
Degradasi LFP/tahun
~1,5%
dengan pengisian rumah biasa
Degradasi NMC/tahun
~3%
dengan fast charging rutin

Data di atas berasal dari studi Geotab (2026) yang menganalisis lebih dari 22.700 kendaraan listrik dari berbagai merek antara 2018–2025. [Geotab, 2026]. Untuk kondisi Indonesia yang panas dan lembab sepanjang tahun, baterai LFP memberikan margin keselamatan yang lebih nyaman.

5 Hal yang Bisa Anda Lakukan Sekarang untuk Keselamatan

Saya tidak ingin tulisan ini hanya berisi daftar masalah. Berikut lima langkah konkret yang bisa langsung dipraktikkan oleh siapa pun yang memiliki atau berencana membeli kendaraan listrik:

  • 1
    Jaga baterai di kisaran 20–80% Riset dari Journal of Power Sources (2025) menunjukkan kebiasaan ini bisa memperlambat kerusakan baterai hingga 40–60%. Hampir semua mobil listrik modern punya fitur pengaturan batas pengisian — aktifkan. Khusus untuk baterai NMC, hindari isi penuh 100% setiap hari. [ScienceDirect, 2021]
  • 2
    Gunakan fast charging secukupnya — bukan setiap hari Fast charging memang praktis, tapi panas yang dihasilkan mempercepat kerusakan baterai. Penelitian dari Clemson University (2026) menemukan bahwa pengisian cepat yang terlalu sering bisa memperpendek usia baterai secara signifikan. Gunakan SPKLU untuk perjalanan jauh, bukan rutinitas harian. [Clemson, 2026]
  • 3
    Hindari parkir lama di bawah sinar matahari langsung Suhu dalam kabin mobil yang terparkir di terik matahari bisa mencapai 60–70°C. Ini mempercepat penuaan baterai dan dalam jangka panjang mempersempit margin keselamatan termal. Parkir di tempat teduh atau gunakan sunshade adalah kebiasaan kecil yang berdampak besar.
  • 4
    Gunakan charger resmi atau bersertifikat Charger abal-abal yang tidak punya sistem komunikasi dengan BMS (Battery Management System) kendaraan Anda bisa mengisi dengan cara yang salah tanpa diketahui. Di Indonesia, pastikan charger yang digunakan sesuai standar SNI. [Wu et al., Energy Material Advances, 2022]
  • 5
    Setelah kecelakaan atau banjir — langsung ke bengkel resmi Ini yang paling sering diabaikan. Kerusakan baterai akibat benturan atau terendam air tidak selalu langsung terlihat. Inspeksi isolasi baterai (insulation resistance test) oleh teknisi terlatih adalah langkah wajib — jangan tunda hanya karena mobil tampak baik-baik saja. [CTIF, 2025]

Kesimpulan: Aman — Asal Diperlakukan dengan Benar

Kembali ke pertanyaan awal: apakah baterai mobil listrik berbahaya? Jawabannya: tidak lebih berbahaya dari bensin yang selama ini kita pakai setiap hari — asal diperlakukan dengan benar.

Yang perlu kita waspadai bukan baterainya, tapi kebiasaan penggunaan kita. Overcharge, fast charging setiap hari, parkir di terik matahari, atau tetap mengendarai EV yang sudah terendam banjir — itulah hal-hal yang mengubah teknologi yang aman menjadi berisiko.

Saya melihat baterai lithium-ion sebagai teknologi luar biasa yang bekerja dengan baik selama kita memahami batas-batasnya. Seperti listrik itu sendiri — berbahaya kalau tidak dihormati, tapi sangat bermanfaat kalau dikelola dengan benar. Edukasi pengguna adalah kunci keselamatan EV di Indonesia.


Referensi Ilmiah
  1. Feng, X. et al. (2018). Thermal runaway mechanism of lithium ion battery for electric vehicles: A review. Energy Storage Materials, ScienceDirect. sciencedirect.com
  2. Sheng, L. et al. (2026). Thermal Runaway in Lithium-Ion Batteries: Mechanisms, Prediction Approaches, and Mitigation Strategies. MDPI Batteries, Vol. 12, No. 3. mdpi.com
  3. Beaudet, A. et al. (2021). Risk management over the life cycle of lithium-ion batteries in electric vehicles. eTransportation, ScienceDirect. sciencedirect.com
  4. Zhou, X. et al. (2025). Early warning method for charging thermal runaway of electric vehicle lithium-ion battery. Scientific Reports, Nature. nature.com
  5. Wu, X. et al. (2022). A Critical Review of Thermal Runaway Prediction and Early-Warning Methods for Lithium-Ion Batteries. Energy Material Advances, Science AAAS. spj.science.org
  6. Khan, M.A. et al. (2025). Fault mitigation and diagnosis for lithium-ion batteries: a review. Frontiers in Energy Research. frontiersin.org
  7. Liu, B. et al. (2024). Experimental analysis and safety assessment of thermal runaway behavior in LFP batteries under mechanical abuse. PMC/NCBI. ncbi.nlm.nih.gov
  8. Collin, R. et al. (2025). Quantifying the degradation cost of frequent fast charging across multiple EV battery chemistries. Journal of Power Sources, ScienceDirect.
  9. Geotab Inc. (2026). EV Battery Health Study: New Data on Fast Charging & Degradation — 22.700 vehicles, 2018–2025. geotab.com
  10. CTIF — International Association of Fire Services. (2025). EV Lithium-Ion Battery Fires: Evolving Challenges & Mitigation Tools. ctif.org
  11. FLASH. (2026). EV Hurricane Prep: Lithium-Ion Battery Safety. Post-Hurricane Ian analysis. flash.org
  12. Clemson University. (2026). Lithium-ion battery fires are a growing public safety concern — here’s how to reduce the risk. news.clemson.edu
  13. GlobalSpec Electronics360. (2025). From NMC to LFP Batteries: A Comprehensive Comparison. electronics360.globalspec.com
  14. AutoInsurance EZ / Blazestack. (2024). How Many EV Fires in 2024–2025 — NFPA & BTS data analysis: 25 fires per 100,000 BEVs vs 1,530 per 100,000 ICE vehicles. blazestack.com
  15. NFPA via Fairfax County. (2026). Data Shows EVs are Less of a Fire Risk than Conventional Cars. fairfaxcounty.gov
  16. EV Energy Hub. (2025). EV Fires vs ICE Fires: Data Shows EVs 20–61× Safer. Sweden 2024 fire data. evenergyhub.com
  17. Gitnux / NFPA. (2026). Electric Vehicle Fire Statistics. Suppression time, water volume, and temperature comparisons. gitnux.org
  18. ICCT. (2024). Approaches to mitigate electric vehicle fire risks in parking structures. theicct.org
“Sukses Selalu di Darat, Laut dan Udara” — haidarahmad
Dukung Blog Ini
Hubungi haidarahmad.id

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Translate to: »