Pada 5 Februari 2026, CATL dan Changan Automobile meluncurkan kendaraan penumpang produksi massal pertama di dunia yang ditenagai baterai sodium-ion — tanpa sebutir pun lithium di dalamnya. Ini bukan berita kecil. Ini adalah tonggak sejarah yang seharusnya dibaca dengan seksama oleh siapa pun yang peduli dengan masa depan industri baterai Indonesia.
Kenapa saya bilang demikian? Karena Indonesia punya hampir semua bahan baku yang dibutuhkan untuk teknologi baterai sodium-ion ini. Dan ironisnya, kita belum punya roadmap yang jelas untuk memanfaatkannya.
“Di industri energi, terlambat satu dekade itu bukan sekadar ketinggalan teknologi — itu berarti kehilangan seluruh ekosistem industri yang sudah terbentuk di tempat lain.”
Sepuluh Tahun Perjalanan yang Perlu Kita Pelajari
Sebelum kita bicara soal Indonesia, mari kita baca dulu dengan jujur apa yang dilakukan CATL. Perjalanan mereka dari 2016 sampai 2026 adalah pelajaran paling berharga tentang bagaimana sebuah terobosan teknologi tidak jatuh dari langit.
2016
Riset Internal Dimulai
CATL memulai program sodium-ion secara internal. Tantangan utama: ion Na⁺ berukuran ~33% lebih besar dari Li⁺, sehingga butuh material host yang berbeda. Investasi: sekitar USD 2,1 miliar selama satu dekade, dengan lebih dari 300 personel R&D. [1]
2021
Generasi Pertama — 160 Wh/kg
Rilis publik baterai sodium-ion pertama dengan katoda Prussian White (Na₂Mn[Fe(CN)₆]) dan anoda hard carbon. Pengisian 80% dalam 15 menit. Retensi kapasitas >90% pada −20°C. [2][3]
2025
Platform Naxtra — 175 Wh/kg
Terobosan terbesar: self-forming anode — ion Na⁺ terdeposisi langsung pada kolektor arus aluminium tanpa material anoda karbon. Volume anoda 60% lebih kecil dari LFP. Operasional −40°C hingga 70°C. Lebih dari 10.000 siklus pada 80% retensi. [4][5]
2026
Kendaraan Produksi Massal Pertama di Dunia
Changan Nevo A06 dengan baterai Naxtra memasuki produksi massal. Bersamaan, CATL menandatangani perjanjian pasokan 60 GWh ke HyperStrong untuk penyimpanan energi stasioner. Target pangsa pasar sodium-ion global: 25% di awal ramp-up. [6][7]
Investasi R&D CATL
~USD 1,4M
≈ Rp 22 triliun selama 10 tahun
Kepadatan Energi Naxtra
175 Wh/kg
tertinggi SIB komersial global
Siklus Hidup
>10.000
80% retensi kapasitas
Proyeksi Pasar SIB Global
USD 6,8M
2034, dari USD 1,39M di 2025 [8]
Yang menarik bagi saya — dan ini relevan langsung dengan konteks Indonesia — adalah fakta bahwa baterai sodium-ion tidak menggunakan lithium, kobalt, maupun tembaga pada kolektor arus anodanya. Baterai ini dibangun di atas sodium, mangan, aluminium, dan hard carbon dari biomassa. Empat material yang semuanya — dalam satu atau lain bentuk — ada di Indonesia.
Peta Bahan Baku: Apa yang Indonesia Punya
Izinkan saya memetakan ini dengan jujur. Bukan untuk membuat kita terlalu optimis, tapi untuk melihat realitanya dengan mata terbuka.
Peta bahan baku baterai sodium-ion dan ketersediaannya di Indonesia. Ilustrasi dari data IEA (2025) dan CATL (2025).
Sodium sendiri bukan mineral langka yang perlu ditambang. Sodium karbonat dan sodium hidroksida bisa diturunkan dari air laut maupun proses industri kimia — dan Indonesia adalah negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang keempat di dunia. Untuk mangan, Indonesia memang memiliki deposit di Kalimantan dan Sulawesi, tapi belum ada fasilitas pemrosesan skala industri yang menghasilkan mangan bermutu baterai (battery-grade manganese sulfate).
Yang paling menarik bagi saya justru biomassa untuk hard carbon. Indonesia adalah salah satu produsen bambu dan produk kelapa terbesar di dunia. Riset terbaru dari jurnal internasional menunjukkan bahwa biomassa tropis — termasuk bambu, tempurung kelapa, dan limbah kayu — adalah prekursor yang sangat menjanjikan untuk anoda hard carbon pada baterai sodium-ion.
Riset yang dipublikasikan di Nanomaterials (MDPI, 2025) mengonfirmasi bahwa biomass-derived hard carbon adalah material anoda yang berkelanjutan dan hemat biaya untuk baterai sodium-ion, dengan sumber bahan yang berlimpah, ramah lingkungan, dan performa elektrokimia yang menjanjikan. Rute pyrolysis suhu tinggi pada biomassa tropis menghasilkan hard carbon dengan jarak interlayer yang ideal untuk insersi ion Na⁺.[9]
Yang Membuat Ini Berbeda dari Rantai Nilai Nikel
Banyak yang bertanya: kenapa kita harus peduli dengan sodium-ion kalau Indonesia sudah punya nikel — bahan baku baterai lithium-ion? Pertanyaan yang masuk akal. Tapi ada beberapa fakta yang perlu dipertimbangkan.
Rantai Nilai Nikel (LIB-NMC)
Indonesia punya nikel 42% dari cadangan dunia (USGS 2023). Tapi nilai tambah tertinggi — sel baterai — masih dikuasai China. Cadangan limonite nikel diperkirakan habis dalam 15–20 tahun di laju produksi saat ini. Ketergantungan pada satu mineral berarti ketergantungan pada satu skenario permintaan. [10][11]
Rantai Nilai Sodium-Ion (SIB)
Tidak memerlukan nikel, kobalt, maupun lithium. Material utama: sodium (berlimpah), mangan (perlu proses), aluminium (tersedia di INALUM), hard carbon dari biomassa (potensi sangat besar). Ini adalah rantai nilai yang berbeda — dan berpotensi lebih berdaulat bagi Indonesia.[12]
IEA dalam Global Critical Minerals Outlook 2025 secara eksplisit menyebut bahwa baterai sodium-ion menawarkan potensi diversifikasi rantai pasok, dengan Amerika Serikat dan Eropa sudah memainkan peran aktif dalam soda ash dan biomassa. Yang tertinggal adalah rantai hilir — sel, katoda, dan anoda hard carbon — yang masih didominasi China.
Artinya: ada jendela peluang yang belum tertutup rapat. Tapi jendela itu tidak akan terbuka selamanya.
Fakta yang Perlu Kita Akui dengan Jujur
Saya tidak ingin tulisan ini menjadi sekadar daftar peluang tanpa mengakui kendala nyata yang ada. Berikut ini adalah kondisi yang perlu kita lihat apa adanya.
Kendala Kritis
Tidak Ada Fasilitas Battery-Grade Processing
Mangan Indonesia belum diolah menjadi high-purity manganese sulfate monohydrate (HPMSM) yang dibutuhkan baterai. Hard carbon dari biomassa membutuhkan fasilitas pyrolysis industri yang belum ada. [13]
Kendala Kritis
Paten Sudah Dikuasai China
Paten SIB global meningkat 12× dari ~600/tahun (2017) menjadi 7.032 (2024). China mendominasi filing. CATL sendiri sudah memiliki ~22.000 paten aktif di seluruh kimia baterai. Masuk ke pasar ini bukan tanpa hambatan intelektual. [14]
Kendala Sedang
Iklim Tropis: Bukan Masalah, Tapi Perlu Validasi
Keunggulan SIB pada suhu rendah (−40°C) tidak relevan di Indonesia. Di iklim tropis 35–40°C, validasi performa tetap diperlukan. Penelitian menunjukkan suhu tinggi mempercepat degradasi elektrolit baterai apa pun — SIB tidak otomatis bebas dari tantangan ini. [15]
Kendala Sedang
LFP Sudah Sangat Murah dan Terus Turun
Pack LFP mencapai rekor rendah $70/kWh pada 2025 — turun 45% dari 2024. SIB harus bersaing dengan target yang terus bergerak. Argumen biaya SIB perlu dikontekstualisasikan terhadap trajektori penurunan harga LFP yang agresif. [16]
Peluang Nyata
BESS Stasioner: Medan yang Tepat
Untuk penyimpanan energi stasioner (BESS) — bukan EV penumpang — SIB dengan siklus 10.000+ dan tidak memerlukan performa kepadatan energi setinggi NMC adalah kandidat kuat. Indonesia membutuhkan banyak BESS untuk integrasi EBT. [7]
Peluang Nyata
Hard Carbon dari Biomassa Tropis
Riset Advanced Materials (Wiley, 2025) menekankan strategi hard carbon dari bambu dan biomassa untuk skalabilitas SIB yang berkelanjutan. Indonesia adalah salah satu produsen bambu terbesar di dunia — ini bisa menjadi keunggulan komparatif nyata. [17]
Perbandingan Posisi: SIB vs LFP untuk Konteks Indonesia
Parameter
Naxtra SIB (CATL 2025)
LFP Terkini
Relevansi untuk Indonesia
Kepadatan Energi
160–175 Wh/kg
150–205 Wh/kg
Sebanding, bukan unggul
Biaya Pack Stasioner (2025)
Proyeksi $40/kWh [18]
$70/kWh [16]
SIB potensial lebih murah untuk BESS
Siklus Hidup
>10.000 siklus
~4.000–6.000 siklus
Keunggulan nyata untuk BESS utilitas
Performa Suhu Rendah
3× lebih baik dari LFP pada −30°C
Degradasi signifikan
Tidak relevan di iklim Indonesia
Kandungan Lithium
Nol
Ada
Indonesia tidak perlu impor lithium
Ketergantungan Nikel
Nol (SIB murni)
Nol
Nikel Indonesia tidak terserap SIB
Bahan Anoda
Hard carbon / biomassa
Grafit (dominasi China)
Biomassa tropis Indonesia adalah aset
Sensitivitas Harga Mineral +10%
+0,8% biaya baterai [19]
+3,2% biaya baterai
SIB jauh lebih resilient
Dari tabel di atas, terlihat bahwa BESS stasioner adalah medan yang paling masuk akal bagi Indonesia untuk masuk ke ekosistem SIB dalam jangka pendek. Di sana, keunggulan siklus hidup SIB dan potensi biaya yang lebih rendah sangat relevan — dan tidak membutuhkan kepadatan energi setinggi aplikasi kendaraan penumpang.
Ilustrasi: Bagaimana Rantai Nilai SIB Bisa Terbentuk di Indonesia
Potensi rantai nilai baterai sodium-ion Indonesia dari hulu ke hilir. Indonesia kuat di bahan baku, tapi masih kosong di produksi sel.
Dua Skenario: Memanfaatkan atau Melewatkan
Skenario Tanpa Strategi SIB
Indonesia terus fokus eksklusif pada rantai nikel-LIB. Cadangan nikel limonite terus menipis. SIB berkembang pesat tanpa Indonesia, hard carbon dari bambu dimonopoli pabrikan China. Pada 2030, Indonesia kembali menjadi pemasok bahan baku mentah untuk teknologi yang tidak kita miliki — persis seperti skenario yang sudah lama ingin kita hindari.
Skenario Dengan Strategi SIB
Pemerintah dan industri mulai memetakan roadmap SIB sebagai jalur paralel — bukan menggantikan LIB, tapi melengkapinya. Investasi di fasilitas HPMSM dan pyrolysis biomassa dimulai 2026–2027. Kemitraan teknologi dengan CATL atau pemain SIB China distrukturkan dengan syarat transfer teknologi. BESS berbasis SIB lokal digunakan untuk integrasi EBT nasional pada 2030.
Saya menulis tulisan ini bukan untuk mengatakan bahwa Indonesia harus meninggalkan strategi nikel-LIB. Sebaliknya. Saya justru ingin menegaskan bahwa Indonesia cukup kuat untuk bermain di dua papan catur sekaligus — tapi hanya kalau kita segera mengakui bahwa permainan kedua itu sudah dimulai, dan kita belum duduk di meja.
Tiga Pelajaran dari CATL yang Perlu Kita Internalisasi
1
Teknologi baterai butuh kesabaran investasi jangka panjang — bukan sprintCATL mulai pada 2016 dan baru mencapai produksi massal pada 2026 — sepuluh tahun dengan investasi sekitar Rp 22 triliun dan 300+ peneliti. Indonesia perlu membangun mentalitas investasi R&D yang sepadan. Tidak ada jalan pintas untuk membangun kapabilitas teknologi baterai dari nol.
2
Sumber daya alam bukan cukup — yang menentukan adalah kapabilitas pemrosesan dan riset materialIndonesia punya nikel, tapi nilai tambah tertinggi tetap di China. Pola yang sama berpotensi terulang dengan SIB: kita punya manganese ore dan bambu, tapi kalau tidak ada fasilitas HPMSM dan riset pyrolysis hard carbon, kita tetap hanya penjual bahan mentah. Seperti yang dibuktikan riset He et al. di Advanced Materials (2025), hard carbon dari bambu memiliki potensi skala industri yang besar — tapi butuh rekayasa proses serius. [17]
3
Kompatibilitas manufaktur adalah kunci masuk yang lebih realistis dari membangun greenfieldSalah satu kunci sukses CATL adalah bahwa produksi SIB kompatibel dengan lini manufaktur LIB yang sudah ada — hanya mengganti tembaga dengan aluminium pada kolektor arus. Ini berarti investasi awal bisa lebih rendah. Indonesia yang sedang membangun ekosistem manufaktur baterai LIB seharusnya memperhitungkan kompatibilitas ini dari awal desain pabrik.
Pendapat Saya: Bukan Soal Siapa yang Lebih Pintar
Waktu saya pertama kali membaca detail teknis perjalanan CATL dengan sodium-ion — dari Prussian White di 2021 sampai Naxtra dengan self-forming anode di 2025 — satu hal yang paling berkesan bagi saya bukan teknologinya. Tapi keseriusannya.
Ini bukan soal China lebih pintar dari Indonesia. Ini soal China lebih serius dan lebih disiplin dalam mengeksekusi roadmap industri jangka panjang. Dan itu adalah sesuatu yang bisa dipelajari — bukan sesuatu yang terberi secara genetis.
Menurut saya, Indonesia tidak perlu memilih antara nikel-LIB atau sodium-ion. Yang Indonesia butuhkan adalah roadmap diversifikasi yang memposisikan sodium-ion sebagai strategi paralel — dimulai dari BESS stasioner, dibangun di atas biomassa lokal, dan diiringi investasi serius dalam riset material. Kita punya bahan bakunya. Yang belum ada adalah keputusan untuk benar-benar membangun industrinya.
Saya teringat pada tulisan saya soal BESS — bahwa penyimpanan energi adalah kunci transisi energi yang sering diabaikan. Sodium-ion adalah salah satu kimia yang paling menjanjikan untuk BESS di negara seperti Indonesia: tidak memerlukan lithium yang harganya fluktuatif, tidak bergantung pada kobalt yang rantai pasoknya kontroversial, dan berpotensi dibangun dari bahan baku yang kita miliki di pekarangan sendiri.
Apakah itu cukup alasan untuk mulai menyusun roadmap-nya? Menurut saya: lebih dari cukup.
Catatan: Tulisan ini merupakan kompilasi dari berbagai sumber ilmiah dan data industri. Semua interpretasi terkait konteks Indonesia merupakan pendapat pribadi, bukan pernyataan resmi institusi mana pun. Data CATL merujuk pada publikasi resmi perusahaan dan laporan industri per pertengahan 2026.
[1]PV Magazine International. (2023, 1 Desember). CATL: Staying on top of the battery game. Investasi R&D dan skala program riset sodium-ion 2016–2026. pv-magazine.com
[2]Wu, K., Dou, X., Zhang, X., et al. (2022). The Sodium-Ion Battery: An Energy-Storage Technology for a Sustainable Future.Engineering, Chinese Academy of Engineering / Elsevier. DOI: 10.1016/j.eng.2022.04.011
[3]Lim, C. Q. X. & Tan, Z.-K. (2021). Prussian White with Near-Maximum Specific Capacity in Sodium-Ion Batteries.ACS Applied Energy Materials, 4(6), 6214–6220. DOI: 10.1021/acsaem.1c00987
[5]R&D World Online. (2026, 6 Maret). 175 Wh/kg: How CATL’s Naxtra Architecture Moves Sodium-Ion Beyond the Lab. Analisis self-forming anode dan kompatibilitas manufaktur. rdworldonline.com
[6]CATL Official Press Release. (2026, 5 Februari). CATL and CHANGAN Launch World’s First Mass-Production Sodium-Ion Passenger Vehicle.catl.com
[7]Energy Storage News. (2026, 20 April). A closer look at CATL’s new sodium-ion battery — ESIE 2026. Perjanjian pasokan 60 GWh ke HyperStrong untuk BESS. ess-news.com
[8]Precedence Research (dikutip dalam Electric & Hybrid Vehicle Technology International, Februari 2026). Proyeksi pasar global sodium-ion battery: USD 1,39M (2025) → USD 6,83M (2034). electrichybridvehicletechnology.com
[9]Lokhande, P.E. et al. (2025). Biomass-Derived Hard Carbon Anodes for Sodium-Ion Batteries: Recent Advances in Synthesis Strategies.Nanomaterials, 15(20), 1554. MDPI. DOI: 10.3390/nano15201554 · CC BY 4.0
[10]Kementerian ESDM RI / Databoks Katadata. (2024, November). Indonesia Holds the World’s Largest Nickel Reserves. Data cadangan nikel: 55 juta ton = 42,31% cadangan dunia (USGS 2023). databoks.katadata.co.id
[11]Energy Shift Institute. (2024, Februari). Indonesia’s Battery and EV — Developments Are Far Out of Step. Analisis cadangan nikel, rantai nilai baterai, dan tantangan adopsi EV Indonesia. energyshift.institute
[12]IEA. (2025). Global Critical Minerals Outlook 2025 — Beyond NMC Batteries: Supply Chain Issues for Emerging Battery Technologies. Potensi diversifikasi rantai pasok sodium-ion. iea.org
[13]SFA Oxford. (2025). The Manganese Market. China menguasai ~85% kapasitas refining mangan global, khususnya High-Purity Manganese Sulphate Monohydrate (HPMSM). sfa-oxford.com
[15]Reddy, M. S. B., Jeong, D., Aich, S., & Pol, V. G. (2025). Low-temperature sodium-ion batteries: challenges, engineering strategies, safety considerations, and future directions.EES Batteries, 1, 1444. RSC Publishing. DOI: 10.1039/D5EB00121H · CC BY 3.0
[16]Energy Storage News / ESS-News. (2025, 29 Desember). CATL confirms significant upgrade to sodium-ion battery product range and scale into 2026. BloombergNEF: LFP pack $70/kWh (2025), turun 45% dari 2024. ess-news.com
[17]He, et al. (2025). Sustainable Hard Carbon for Sodium-Ion Batteries: Precursor Design and Scalable Production Roadmaps.Advanced Materials, Wiley. DOI: 10.1002/adma.202506066 — Review pada strategi hard carbon dari bambu dan biomassa untuk SIB skala industri.
[18]IRENA. (2025). Sodium-ion battery cost projections. Target biaya sel SIB: $40/kWh (dikutip dalam ESS-News, Desember 2025). ess-news.com
[19]Wood Mackenzie (2023), dikutip dalam Lark Scientific. (2025, November). Are Sodium-Ion Batteries Ready For Prime Time? Sensitivitas biaya baterai terhadap kenaikan harga mineral: SIB +0,8% vs LFP +3,2% per kenaikan 10% harga mineral. larkscientific.org
“Sukses Selalu di Darat, Laut dan Udara” — haidarahmad
Pada tulisan sebelumnya telah membahas konektor kendaan listrik, sekarang saatnya mengetahui standar konektor kendaraan listrik di Indonesia. Mengacu pada Peraturan Meteri ESDM nomor 13 tahun 2020, Indonesia menetapkan type 2, CCS 2 dan CHAdeMO sebagai standar konektor. Hal tersebut …
Setelah thu apa itu kendaraan listrik, sebaiknya kita tahu juga apa saja varian dari kendaraan listrik. Ternyata kendaraan listrik (Electric Vehicle – EV) ada beberapa variannya dan dalam tulisan kali ini saya akan sedikit menyampaikan varian dari EV yang …
Tahun 2021-2022 menjadi tahun penyelengaraan pertemuan G20 di Indonesia, dan pada akhir tahun 2022 akan diselenggarakan pertemuan tingkat tinggi G20 di Bali. Pertemuan tersebut mendorong Indonesia untuk menunjukan komitmen kepada lingkungan dengan serbuan kendaraan listrik di Bali. Pada pertemuan G20 …
New Normal kalimat yang saat ini sedang naik daun. Hampir dimana-mana baik media daring ataupun luring. Banyak pihak sepakat new normal ini lahir karena terjadinya pandemi korona yang terjadi di seluruh dunia saat ini. Menurut banyak pengamat, pandemi korona…