Di tulisan sebelumnya saya pernah bahas tentang apa itu BESS (Battery Energy Storage System) — baterai besar yang bisa menyimpan listrik. Tapi ternyata ada satu pertanyaan yang sering muncul: BESS itu dipasang di mana? Jawabannya bukan soal teknis semata — ia menentukan siapa yang untung dan untuk apa baterainya bekerja.
Sederhananya, ada dua jenis BESS berdasarkan posisi pemasangannya: Front of the Meter (FTM) dan Behind the Meter (BTM). Meteran di sini adalah meteran PLN — alat pencatat pemakaian listrik yang ada di rumah atau pabrik (sisi konsumen PLN).
Meteran PLN Itu Garis Batas
Bayangkan meteran PLN seperti pintu gerbang. Di luar pagar — itu wilayah PLN. Di dalam pagar — itu wilayah konsumen, yaitu kita.
FTM: Baterai yang Menjaga Keseimbangan Listrik Nasional
BESS FTM bekerja di skala besar — bisa ratusan megawatt hour hingga gigawatt hour. Fungsinya untuk sistem, bukan untuk satu gedung.
Apa yang dilakukan BESS FTM? Salah satu yang penting adalah menjaga frekuensi listrik tetap stabil di 50 Hz. Frekuensi itu seperti detak jantung jaringan listrik — kalau naik-turun terlalu drastis, peralatan listrik bisa rusak. BESS bisa merespons gangguan dalam hitungan milidetik, jauh lebih cepat dari pembangkit konvensional yang butuh waktu menit.
Di sisi lain, kebutuhan BESS tumbuh sangat cepat secara global — tapi alasan utamanya bukan semata soal frekuensi. Menurut laporan IEA 2024, kapasitas penyimpanan energi baterai dunia harus tumbuh enam kali lipat menjadi 1.500 GW pada 2030 karena salah satu alasannya: energi surya dan angin tidak bisa menghasilkan listrik terus-menerus. BESS-lah yang menyimpan listrik saat produksi berlebih, lalu melepasnya saat dibutuhkan. Tanpa BESS, target tiga kali lipat kapasitas energi terbarukan dunia yang disepakati di COP28 tidak akan bisa terwujud.
BESS FTM juga berperan penting untuk mendukung energi terbarukan. Panel surya dan angin sifatnya tidak stabil — kadang produksi banyak, kadang sedikit. Kalau listrik yang dihasilkan tidak langsung terpakai dan tidak ada tempat menyimpannya, energi itu terbuang sia-sia — inilah yang disebut curtailment. Menurut laporan IEA Renewables 2024, beberapa negara yang sudah memiliki porsi surya dan angin tinggi seperti Chile, Irlandia, dan Inggris sudah mengalami curtailment 5–15% dari total produksi energi terbarukannya. BESS adalah salah satu solusi utama untuk menyerap kelebihan produksi itu agar tidak terbuang.
BTM: Baterai Milik Kita Sendiri
Berbeda dari FTM, BESS BTM adalah baterai yang dipasang di sisi konsumen — di dalam pagar, setelah meteran PLN. Skalanya lebih kecil: dari satuan kilowatt hour untuk residensial atau gedung perkantoran hingga beberapa megawatt hour untuk pabrik besar.
Manfaat utama BTM ada tiga:
-
1Hemat Tagihan Listrik Berdasarkan dokumen resmi Tariff Adjustment PLN April–Juni 2026, pelanggan industri golongan I-3/TM (di atas 200 kVA) dikenakan tarif WBP sebesar K × Rp1.035,78/kWh dan LWBP sebesar Rp1.035,78/kWh. Nilai K ditetapkan Direksi PLN antara 1,4 hingga 2 sesuai karakteristik beban sistem setempat — artinya listrik di jam beban puncak bisa 40% hingga 2× lebih mahal dibanding jam biasa. BESS mengisi baterai saat LWBP, lalu melepas energi itu saat WBP sehingga konsumsi dari PLN di jam mahal berkurang. Selain itu, ada komponen Rekening Minimum (RM2) = 40 jam nyala × kVA tersambung × biaya LWBP — BESS yang memangkas lonjakan beban puncak dapat menekan angka jam nyala efektif, yang berdampak langsung pada RM. Catatan: untuk golongan I-4/TT (≥30.000 kVA), tarif WBP dan LWBP saat ini sama-sama Rp996,74/kWh, sehingga manfaat selisih WBP–LWBP tidak berlaku — namun penghematan RM3 via peak shaving tetap relevan.
-
2Simpan Energi Surya Sejak Permen ESDM No. 2 Tahun 2024 menghapus skema jual-balik listrik ke PLN (net-metering), kelebihan listrik dari panel surya atap tidak bisa lagi dijual — kelebihan produksi siang hari terbuang begitu saja. Dengan BESS, kelebihan itu disimpan dan dipakai malam hari saat panel surya tidak berproduksi. Tanpa BESS, nilai investasi panel surya atap menjadi jauh lebih terbatas karena konsumsi mandiri hanya bisa terjadi saat matahari bersinar dan beban sedang aktif bersamaan. Ini adalah alasan utama mengapa BESS BTM menjadi semakin relevan pasca kebijakan tersebut.
-
3Cadangan Daya Saat PLN Padam BESS BTM bisa beralih ke mode backup dalam hitungan milidetik saat PLN padam — jauh lebih cepat dari genset diesel yang membutuhkan waktu pemanasan mesin sebelum bisa menyuplai daya penuh. Kecepatan respons BESS yang berbasis inverter ini menjadikannya pilihan utama untuk fasilitas yang tidak toleran terhadap gangguan daya, seperti rumah sakit, pusat data, dan lini produksi industri. Catatan: angka respons waktu spesifik bervariasi tergantung spesifikasi inverter dan konfigurasi sistem masing-masing.
Kondisi di Indonesia: Mana yang Lebih Relevan?
Untuk Indonesia, keduanya penting — tapi konteksnya berbeda.
BESS FTM makin krusial karena sistem Jawa-Bali berencana menyerap lebih banyak energi surya dan angin sesuai target RUPTL. Semakin besar porsi energi terbarukan yang masuk, semakin dibutuhkan penyimpanan yang bisa menstabilkan pasokan saat matahari tidak bersinar atau angin tidak bertiup. Di sisi lain, kajian IEEFA 2026 mencatat bahwa program solar plus BESS untuk menggantikan pembangkit diesel di daerah terpencil Indonesia berpotensi menghemat hingga USD 2 miliar per tahun dari impor bahan bakar — ini gambaran nyata seberapa besar peran BESS FTM dalam konteks Indonesia.
BESS BTM saat ini lebih menantang secara ekonomi karena Permen ESDM No. 2 Tahun 2024 telah menghapus skema jual-balik listrik surya ke PLN. Tanpa pemasukan dari penjualan energi, nilai BTM bergantung pada struktur tarif PLN yang berlaku. Untuk golongan I-3/TM, selisih WBP dan LWBP masih ada melalui faktor K (1,4 ≤ K ≤ 2) sehingga TOU (Time-of-Use) arbitrage dan penghematan Rekening Minimum via peak shaving tetap relevan. Namun untuk golongan I-4/TT, tarif WBP dan LWBP saat ini disamakan di Rp996,74/kWh — manfaat selisih tarif tidak ada, meski RM3 via peak shaving tetap bisa dioptimalkan. Untuk rumah tangga biasa, keekonomian BESS BTM masih sangat sulit tanpa insentif tambahan dari pemerintah. Seluruh angka tarif mengacu pada dokumen resmi Tariff Adjustment PLN April–Juni 2026.
Perbandingan Singkat: FTM vs BTM
| Aspek | BESS FTM | BESS BTM |
|---|---|---|
| Lokasi | Sebelum meteran PLN | Setelah meteran PLN |
| Pemilik | PLN / IPP / investor energi | Pemilik gedung / pabrik |
| Skala | 1 MW – 1 GW+ | 5 kW – 20 MW |
| Biaya (2024) | $115–200 per kWh (pack price; installed cost lebih tinggi) | $115–250 per kWh (pack price; installed cost lebih tinggi) |
| Tujuan utama | Stabilitas sistem listrik | Hemat tagihan & backup |
| Relevansi di Indonesia | Mendesak untuk EBT | Potensial, tapi terbatas regulasi |
Data biaya baterai berdasarkan survei tahunan BloombergNEF 2024 yang mencatat harga rata-rata baterai lithium-ion turun 20% ke rekor terendah $115/kWh. Tarif PLN mengacu pada dokumen resmi Tariff Adjustment PLN April–Juni 2026.
Penutup: Dua Baterai, Satu Tujuan Besar
BTM dan FTM bukan saingan — mereka saling melengkapi. FTM menjaga sistem listrik tetap sehat dan stabil di level nasional. BTM membantu konsumen menggunakan listrik lebih cerdas dan hemat. Keduanya pada akhirnya menuju satu tujuan yang sama: sistem energi yang lebih bersih, lebih andal, dan lebih efisien.
- IEA. Batteries and Secure Energy Transitions. International Energy Agency, Paris, 2024. iea.org/reports/batteries-and-secure-energy-transitions
(Akademik: Kebede et al., J. Power Sources 484, 228226, 2021 — doi:10.1016/j.jpowsour.2020.228226) - IEA. Renewables 2024. International Energy Agency, Paris, 2024. iea.org/reports/renewables-2024
- PLN (PT Perusahaan Listrik Negara). Penetapan Penyesuaian Tarif Tenaga Listrik (Tariff Adjustment) April–Juni 2026. pln.co.id/tariff-adjustment-document-en
- BloombergNEF. Lithium-Ion Battery Pack Prices See Largest Drop Since 2017, Falling to $115 per Kilowatt-Hour. December 2024. about.bnef.com — BloombergNEF Battery Price Survey 2024
- IEEFA. Advancing Indonesia’s 100GW Solar Program through De-dieselization for Energy Security. Institute for Energy Economics and Financial Analysis, 2026. ieefa.org — Indonesia Solar BESS Report 2026
- IESR. Taming the Untapped Energy in Indonesia. Institute for Essential Services Reform, 2025. iesr.or.id/en/taming-the-untapped-energy-in-indonesia
- Kementerian ESDM RI. Peraturan Menteri ESDM No. 2 Tahun 2024 tentang PLTS Atap. jdih.esdm.go.id — Permen ESDM No. 2/2024