selalu ada cerita di setiap kesempatan
selalu ada cerita di setiap kesempatan

Menuju Tahun ke-5 Menggunakan EV

Tidak terasa saya sudah menuju tahun ke-5 menggunakan EV. Motor listrik pertama di Indonesia yang ber-STNK dan perakitannya di Indonesia. Tidak lain EV tersebut adalah motor listrik Viar Q1. Tulisan ini saya akan bercerita mengapa memilih motor listrik tersebut dan bagaimana pengalaman saya yang hampir 5 tahun menggunakan EV.

Penafian: tulisan ini tidak disponsori oleh pihak manapun (termasuk Viar) yang pada tulisan ini menjadi objek tulisan. Tulisan ini murni keinginan bercerita pengalaman pribadi dalam menggunakan motor listrik tersebut.

Pengisian Motor Listrik di SPLU menuju 5 tahun menggunakan EV
Saat pengisian baterai di SPLU PLN UID Jakarta

Viar Q1 menjadi pilihan pertama saya untuk memiliki sebuah EV. Bukan karena desainnya, bukan karena performanya, dan juga bukan karena mereknya. Tapi hanya karena sebuah motor listrik yang telah ber-STNK.  Dengan kata lain, motor listrik yang negara telah mengakuinya secara legal sebagai kendaraan yang laik jalan sebagai sebuah kendaraan bermotor. Selain itu karena motor tersebut perakitannya di Semarang, menguatkan saya untuk memilih motor tersebut (bangga buatan Indonesia).

Spesifikasi Viar Q1
Spesifikasi Viar Q1

Pada awalnya saya hanya mengenal Viar sebagai produsen kendaraan niaga roda tiga, sehingga Viar bukanlah merek pilihan saya. Tipe motor skuter juga bukan tipe motor yang saya sukai. Pilihan saya adalah tipe motor dengan tangki di depan (banyak yang menyebutnya dengan motor laki atau motor batangan). Desain Viar Q1 yang membulat mendekati skuter retro namun dengan sentuhan modern serta mengadaptasi desain motor listrik Gogoro juga bukan kesukaan saya. Bahkan dari tenaganya yang hanya 800 Watt atau jika dikonversi menjadi satuan horse power (HP), Viar Q1 hanya memiliki tenaga sebesar 1 HP.

Tapi karena Viar Q1 adalah motor listrik pertama yang memiliki STNK menjadi pilihan EV pertama yang saya beli. Selain itu juga karena harganya yang masih cukup terjangkau meyakinkan saya untuk membelinya.

Cerita Sebelumnya

Saya sudah cukup lama tertarik dengan EV, mungkin sekitar tahun 2009-2010 sejak awal saya bekerja di industri ketenagalistrikan. Bukan karena ada EV di lingkungan saya kerja tapi karena saya tertarik EV di film Holywood. Ada beberapa film Holywood yang menggambarkan mobil listrik yang futuristik dan dalam pikiran saya sangat menarik jika mobil listrik benar ada di dunia. Berhubungan dengan tempat kerja saya yang bergerak di bidang ketenagalistrikan, menjadikan semakin penasaran atas keberadaan EV. Lalu saya coba mencari informasi mengenai EV dan benar ternyata bahkan sejak tahun 1800-an EV sudah diperkenalkan. Namun karena industri kendaraan berbasiskan bahan bakar fosil maka perkembangan EV menjadi terhenti.

https://youtu.be/T06HnA7ck6c

Motor listrik pertama yang saya kenal adalah Zero, namun harganya yang tidak terjangkau untuk saya dan ternyata pada saat itu belum ber-STNK. Karena harganya yang tidak masuk anggaran, saya hanya bisa melihat motor tersebut dari luar showroom yang menjualnya. Pada akhir tahun 2017, Viar memperkenalkan Q1 sebagai motor listrik pertama yang sudah memiliki STNK. Baru saja Viar melakukan press release di beberapa media, tidak pikir panjang saya mencari informasi tentang Viar Q1 ini. Sampai pada akhirnya saya memutuskan test ride Viar Q1 di markasnya Viar di Sunter, padahal pada saat itu Viar baru memperkenalkan Q1, belum ada harga resmi dan belum lauching.

Zero S pada Tahun 2010
Zero S pada Tahun 2010

Keputusan Meminang Viar Q1

Walau banyak ketidaksukaan saya pada motor ini, namun akhirnya saya membeli motor ini di sebuah marketplace. Beberapa orang di sekitar saya ada juga yang tidak setuju untuk mengambil motor ini, namun kembali karena ini adalah sebuah EV yang membuat bulat keputusan saya.

Apakah saya puas dengan Viar Q1? Iya jawabannya. Sesuai dengan ekspektasi saya, motor ini sudah cukup untuk kebutuhan bepergian harian. Yang pasti motor ini bukan untuk mengejar kecepatan, walaupun sensasi tenaga maksimumnya langsung dapat dinikmati (inilah kelebihan karakter dari EV). Perawatan motor ini sangat mudah, hanya perlu memastikan baterai tidak habis sampai 0. Selain itu hanya mekanikal seperti roda, rem, suspensi yang perlu diperhatikan.

5 tahun menggunakan EV, saya beberapa kali mengalami kendala yaitu kerusakan baterai, dan permasalahan pada motor listriknya. Kerusakan baterai ini terjadi karena belumnya pemahaman saya terkait baterai motor listrik. Saat itu saya selalu melakukan pengisian baterai saat sudah benar-benar habis. Ternyata perilaku pengisian seperti itu mempercepat umur baterai. Baterai pertama Viar Q1 ini berumur sekitar 1,5 tahun. Namun untuk baterai ke-2-nya, dengan cara pengisian yang baik, sudah lebih dari 3 tahun belum ada permasalahan apapun.

Selain permasalahan baterai, beberapa kali saya pernah kehabisan baterai saat di perjalanan. Karena saat itu saya baru mengisi baterai saat baterai mendekati habis, kesalahan perhitungan jarak tempuh membuat saya kehabisan baterai di tengah perjalanan. Solusi saya ketika kehabisan baterai dalam perjalanan adalah menggunakan ojek online.

Menuju 5 Tahun Menggunakan EV

Menuju 5 tahun menggunakan EV ini, secara keseluruhan saya puas menggunkan Viar Q1. Motor ini bukan motor mainan yang hanya jadi pajangan di garasi. Motor ini menjadi motor harian utama saya. Kecelakaan lalu lintas pun pernah terjadi dengan motor ini walau hanya kecelakaan ringan. Beberapa ubahan yang saya lakukan pada motor ini yaitu mengganti kaca spoin dengan yang lebih kecil agar terlihat lebih pas. Lalu wind shield saya lepas agar terlihat lebih ringkas bagian kepala Q1 ini. Pada bagian depan motor ini saya menempelkan stiker garis berwarna merah putih dan badge garuda untuk menunjukan ini rakitan Indonesia.

Sukses selalu di darat, laut dan udara.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Translate to: »