selalu ada cerita di setiap kesempatan
selalu ada cerita di setiap kesempatan

Dua Baterai, Satu Pertanyaan: Mana yang Akan Menggerakkan Masa Depan?

“Di industri ketenagalistrikan, saya belajar bahwa tidak ada teknologi yang benar-benar kalah — yang ada adalah teknologi yang tepat untuk masalah yang tepat.”

Di tulisan saya sebelumnya tentang dampak 109 ribu kendaraan listrik terhadap sistem kelistrikan Indonesia, saya menyebut BESS — baterai penyimpan energi — sebagai salah satu kunci mitigasi. Tapi ada pertanyaan yang sering saya terima setelah tulisan itu: baterai jenis apa yang paling tepat? Jawabannya tidak sesederhana yang kita kira, dan ceritanya dimulai lebih dari 50 tahun yang lalu.

Dua nama mendominasi percakapan tentang baterai hari ini: lithium-ion (Li-ion) yang sudah terbukti selama tiga dekade, dan sodium-ion (Na-ion) yang baru bangkit dan mulai mengancam dominasinya. Keduanya, menariknya, lahir dari laboratorium yang sama di era yang hampir bersamaan.

Lima Dekade Sejarah yang Perlu Kita Pahami

Banyak orang mengira Na-ion adalah teknologi baru. Sebenarnya tidak. Riset awal untuk keduanya berjalan paralel sejak era 1970-an — hanya saja Li-ion memenangkan perlombaan lebih awal.

Lithium-ion (Li-ion)
1970–1972
M. Stanley Whittingham (Exxon) mengembangkan sel litium pertama dengan katoda TiS₂ — meletakkan dasar konsep intercalation.[1]
1980
John Goodenough (Oxford) menemukan LiCoO₂ sebagai katoda — material yang masih dipakai hingga kini.[2]
1991
Sony meluncurkan baterai Li-ion komersial pertama. Revolusi portable electronics dimulai.
2008
Tesla Roadster — EV pertama berbasis Li-ion dengan jangkauan 320 km. Membuktikan kelayakan Li-ion untuk otomotif.
2019
Goodenough, Whittingham & Yoshino raih Nobel Kimia atas pengembangan baterai lithium-ion.[3]
Sodium-ion (Na-ion)
1970-an
Riset awal NaCoO₂ berjalan paralel dengan Li-ion. Ditinggalkan karena Li-ion tampak lebih menjanjikan saat itu.[4]
2000–2010
Kebangkitan minat akademis dipicu kekhawatiran kelangkaan litium. Hard carbon diidentifikasi sebagai anoda yang layak.[5]
2011
Faradion berdiri di Sheffield, UK — perusahaan komersial Na-ion pertama di dunia.
Juli 2021
CATL umumkan Na-ion generasi pertama — 160 Wh/kg, 80% kapasitas setelah 2.000 siklus. Game changer industri.[6]
2023
BYD Seagull meluncurkan EV pertama berbasis Na-ion di pasar China. Produksi massal dimulai.

Pelajaran yang saya ambil dari sejarah ini: Na-ion tidak gagal karena teknologinya buruk. Ia ditinggalkan karena Li-ion lebih cepat matang di era itu. Sekarang, dengan harga litium yang bergejolak dan kekhawatiran rantai pasok global, Na-ion mendapat kesempatan keduanya.

Anatomi Sel Baterai Lithium-ion (Li-ion) Penampang isometrik 3D sel baterai Li-ion: kolektor Cu — anoda grafit — separator polimer — katoda LiCoO2 — kolektor Al. Ion Li+ terlihat bermigrasi melalui separator. Li⁺ Cu ANODA Grafit (LiC₆) SEPARATOR polimer berpori KATODA LiCoO₂ / LFP Al Ion Li⁺ bermigrasi → e⁻ e⁻ Sel Baterai Lithium-ion (Li-ion) SPESIFIKASI Energy density 300 Wh/kg Tegangan sel 3,2 – 3,7 V Siklus hidup 500–2.000+ Anoda Grafit Kolektor anoda Tembaga (Cu) 🏆 Nobel Kimia 2019 Goodenough · Whittingham · Yoshino Penampang isometrik sel Li-ion — ion Li⁺ bermigrasi melalui separator dari anoda ke katoda saat discharge Ref: Tarascon & Armand (2001) Nature 414 · Royal Swedish Academy of Sciences Nobel 2019
Ilustrasi 1: Penampang 3D sel baterai Lithium-ion — anoda grafit (abu-biru), separator polimer, katoda LiCoO₂ (ungu), dengan ion Li⁺ bermigrasi saat discharge. Kolektor anoda: tembaga (Cu); kolektor katoda: aluminium (Al).

Perbandingan Teknis: Di Mana Masing-masing Unggul?

Saya tidak akan berpura-pura bahwa Na-ion unggul di semua aspek — tidak begitu. Tapi ada beberapa poin yang membuatnya menarik untuk konteks Indonesia, khususnya untuk aplikasi BESS yang saya bahas di tulisan tentang BESS sebelumnya.

Energy density Li-ion
300 Wh/kg
lebih padat energi
Energy density Na-ion
160 Wh/kg
lebih rendah, tapi cukup untuk BESS
Biaya Li-ion (2024)
$110/kWh
estimasi per sel
Biaya Na-ion (2024)
$65/kWh
~40% lebih murah
Parameter Lithium-ion Sodium-ion
Kepadatan energi150–300 Wh/kg100–160 Wh/kg
Siklus hidup500–2.000+ siklus1.000–5.000 siklus (est.)
Biaya materialTinggi (Li, Co, Ni)Sangat rendah (Na)
Ketersediaan bahanTerkonsentrasi, rawan geopolitikGlobal, melimpah
Performa suhu rendahMenurun di bawah 0°CStabil hingga −40°C
Keamanan termalRisiko thermal runawayLebih stabil
Penyimpanan di 0VTidak amanAman — logistik lebih mudah
Kematangan teknologiSangat matang (30+ tahun)Berkembang pesat (2021–)
Aplikasi utamaEV premium, elektronikBESS, EV perkotaan, off-grid

Satu detail teknis yang sering diabaikan: karena natrium tidak berikatan dengan aluminium (tidak seperti litium), kolektor arus anoda Na-ion bisa menggunakan aluminium alih-alih tembaga. Hasilnya lebih ringan, lebih murah, dan lebih mudah didaur ulang. Ini juga yang membuat Na-ion aman disimpan dalam kondisi fully discharged — keunggulan logistik yang nyata untuk pengiriman skala besar.[7]

Anatomi Sel Baterai Sodium-ion (Na-ion) Penampang isometrik 3D sel baterai Na-ion: kolektor Al — anoda hard carbon (amorf) — separator polimer berpori — katoda Na-layered oxide (hijau) — kolektor Al. Ion Na+ (lebih besar dari Li+) bermigrasi melalui separator. Kedua kolektor menggunakan aluminium. Na⁺ Na⁺ Al ① ANODA Hard Carbon (amorf) SEPARATOR polimer berpori KATODA Na-layered oxide Al ② KEUNGGULAN Na-ION Energy density 160 Wh/kg Biaya bahan baku ~40% lebih murah Kolektor arus Al keduanya ✓ Suhu rendah stabil −40°C Simpan di 0V Aman ✓ UKURAN ION Li⁺ 76 pm Na⁺ 102 pm (+34%) Sel Baterai Sodium-ion (Na-ion) Keduanya pakai Al! lebih ringan & murah e⁻ e⁻ Ion Na⁺ (102 pm) lebih besar 34% dari Li⁺ — mengharuskan anoda hard carbon, bukan grafit. Kedua kolektor: Al. Ref: Delmas (2018) Adv. Energy Mater. · CATL (2021) · Abraham (2020) ACS Energy Letters
Ilustrasi 2: Penampang 3D sel baterai Sodium-ion — anoda hard carbon amorf (cokelat), separator, katoda Na-layered oxide (hijau). Ion Na⁺ berukuran 102 pm — 34% lebih besar dari Li⁺. Keunggulan kunci: kedua kolektor menggunakan aluminium, bukan tembaga mahal.

Mana yang Lebih Cocok untuk Indonesia?

Dalam konteks tantangan sistem kelistrikan yang saya bahas sebelumnya, jawaban saya adalah: keduanya, untuk tujuan yang berbeda.

Li-ion tetap dominan untuk:
EV jarak jauh yang butuh kepadatan energi tinggi, kendaraan premium, dan aplikasi di mana bobot dan volume adalah faktor kritis. Indonesia sebagai produsen nikel juga punya kepentingan strategis di ekosistem ini.
Na-ion sangat menjanjikan untuk:
BESS di gardu distribusi perumahan padat EV, penyimpanan energi untuk PLTS di daerah terpencil dan kepulauan, serta EV perkotaan segmen bawah di mana harga adalah faktor utama.

Menurut saya, Indonesia perlu menjalankan strategi dual-track: tetap mengembangkan ekosistem Li-ion berbasis nikel untuk ekspor dan EV premium, sambil paralel membangun kapasitas riset dan adopsi Na-ion untuk kebutuhan BESS domestik. Dua rel, satu tujuan: ketahanan energi nasional.

Ada satu peluang yang sangat konkret dan belum banyak dibicarakan. Hard carbon — material anoda Na-ion — bisa diproduksi dari biomassa seperti sekam padi dan tempurung kelapa. Indonesia menghasilkan kedua komoditas itu dalam jumlah sangat besar setiap tahun. Jika kita serius, limbah pertanian itu bisa menjadi bahan baku baterai masa depan.[8]


Kesimpulan: Bukan Persaingan, Melainkan Kolaborasi

Setelah lebih dari 50 tahun perjalanan paralel, Li-ion dan Na-ion bukan lagi dua teknologi yang saling mengeliminasi. Mereka adalah dua alat dalam satu kotak yang sama — masing-masing optimal untuk tugas yang berbeda.

Yang paling penting untuk Indonesia: jangan sampai kita terlambat lagi. Kita menyaksikan kelahiran ekosistem Na-ion global secara real-time. Ini adalah jendela yang tidak akan terbuka selamanya.

Catatan: Data teknis dalam tulisan ini bersumber dari literatur ilmiah peer-reviewed dan laporan industri yang tercantum di bawah. Angka biaya bersifat indikatif (estimasi 2024) dan bergantung pada skala produksi serta kondisi pasar.

Referensi

  • [1] Whittingham, M.S. (1976). Electrical energy storage and intercalation chemistry. Science, 192(4244), 1126–1127. doi:10.1126/science.192.4244.1126
  • [2] Goodenough, J.B. & Park, K-S. (2013). The Li-ion rechargeable battery: a perspective. JACS, 135(4), 1167–1176. doi:10.1021/ja3091438
  • [3] Royal Swedish Academy of Sciences. (2019). Scientific Background: Lithium-ion batteries. Nobel Prize in Chemistry 2019. nobelprize.org
  • [4] Delmas, C. (2018). Sodium and sodium-ion batteries: 50 years of research. Advanced Energy Materials, 8(17), 1703137. doi:10.1002/aenm.201703137
  • [5] Komaba, S. et al. (2012). Electrochemical Na insertion and solid electrolyte interphase for hard-carbon electrodes. Advanced Functional Materials, 21(20), 3859–3867. doi:10.1002/adfm.201100854
  • [6] CATL. (2021). CATL’s sodium-ion battery. Press release, July 29, 2021. catl.com
  • [7] Abraham, K.M. (2020). How comparable are sodium-ion batteries to lithium-ion counterparts? ACS Energy Letters, 5(11), 3544–3547. doi:10.1021/acsenergylett.0c02181
  • [8] Vaalma, C., Buchholz, D., Weil, M. & Passerini, S. (2018). A cost and resource analysis of sodium-ion batteries. Nature Reviews Materials, 3, 18013. doi:10.1038/natrevmats.2018.13
“Sukses Selalu di Darat, Laut dan Udara” — haidarahmad

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Translate to: »