Baterai Sodium-Ion Dunia: Siapa di Depan, Siapa Baru Pemanasan?

Bayangkan sebuah lomba maraton yang diikuti sebelas negara. Ada yang sudah berlari di kilometer tiga puluh, ada yang baru pemanasan, dan ada yang masih mencari sepatu. Kira-kira begitulah kondisi riset dan pengembangan (R&D) baterai sodium-ion (SiB) dunia per Juli 2026. Di tulisan ini saya memetakan siapa berada di mana — dan pelajaran apa yang bisa dipetik dari masing-masing pelari.

“Dalam balapan teknologi, yang menang bukan selalu yang paling pintar di laboratorium — tapi yang paling cepat menyambungkan riset, modal, dan pabrik menjadi satu garis lurus.”

Yang Membedakan Bukan Kecanggihan Risetnya, Tapi Fasenya

Waktu menyusun perbandingan ini, satu hal langsung terlihat jelas. Perbedaan paling mendasar antar negara ternyata bukan soal siapa yang risetnya paling canggih — hampir semua negara maju punya laboratorium kelas dunia. Yang membedakan adalah fase: China sudah memproduksi massal dan memasang SiB di jaringan listriknya, sementara sebagian besar negara lain masih di pilot line atau meja laboratorium.

Paten SiB diajukan (2024)
7.032
naik ±12 kali sejak 2017, terkonsentrasi di China
Kontrak pasokan terbesar
60 GWh
CATL × HyperStrong, 3 tahun (Apr 2026)
Proyeksi kapasitas China 2030
175 GWh
dari 40 GWh pada 2023
Kapasitas industri Indonesia
0 GWh
masih di fase riset akademik

Ibaratnya begini: saat negara lain masih mencoba-coba resep di dapur, China sudah membuka jaringan restoran. BESS berbasis SiB 100 MW/200 MWh milik konsorsium Datang–HiNa sudah beroperasi di Hubei, dan CATL bersama Changan mulai memasang baterai sodium di mobil listrik produksi massal sejak Februari 2026.

Peta Posisi per Juli 2026

Tiga Fase Balapan Sodium-Ion Dunia status Juli 2026 — semakin tinggi podium, semakin dekat ke pasar Na+ PRODUKSI MASSAL China BESS grid · EV massal · kontrak 60 GWh PILOT / KONSTRUKSI India · Prancis · AS · Korea · Swedia gigafactory dibangun · lini awal RISET / PROGRAM Jepang · Jerman · Indonesia Ilustrasi: haidarahmad.id — dirangkum dari IEA (2026) dan rilis primer tiap negara
Gambar 1 — Tiga fase balapan industrialisasi baterai sodium-ion dunia per Juli 2026.

Supaya mudah dibandingkan, saya rangkum posisi para pemain utama dalam tabel berikut. Baris Indonesia sengaja disorot sebagai pembanding.

NegaraStatus Juli 2026Bukti di LapanganFase
ChinaProduksi massal + pemasangan skala gridBESS 100 MW/200 MWh beroperasi; EV massal; pabrik BYD 30 GWhTerdepan
IndiaKonstruksi gigafactory 30 GWh (Jamnagar)IP Faradion (Inggris) diakuisisi Reliance; target produksi H2-2026Mengejar
PrancisSkala awal — lini 6 GWh (Tiamat)Kimia NVPF high-power; rencana gigafactory AmiensMengejar
Amerika SerikatKebangkitan kedua pasca-NatronPeak Energy: sistem 3,1 MWh terpasang; kontrak 4,75 GWhBangkit
Korea SelatanR&D + pilot line, belum komersialPilot LGES; target pasar ±2028Pilot
JepangProgram nasional NEDO diluncurkan Juli 2026Fokus unik: glass-ceramic all-solid-state natriumProgram Baru
InggrisIP pionir tereksporkanFaradion dijual ke India; AMTE diambil alih pihak BelandaKehilangan
IndonesiaRiset akademik terfragmentasiITS, UB×Osaka, Univ. Pertamina, UNPAR; belum ada program nasionalGaris Start
Kapasitas manufaktur SiB — terpasang, terkontrak, atau terencana (GWh). Angka bersifat heterogen: ada kapasitas pabrik, volume kontrak, dan proyeksi — perhatikan label tiap batang.

Grafik di atas bercerita lebih jujur daripada seribu kata: jarak antara China dan pelari kedua bukan selisih beberapa langkah — ini selisih beberapa lap. Dan Indonesia masih nol, karena seluruh aktivitas kita saat ini berhenti di publikasi ilmiah.

Dua Pelajaran Mahal: Amerika dan Inggris

Yang paling menarik dari peta ini justru bukan kisah suksesnya, tapi dua kisah kegagalannya.

Pertama, Natron Energy di Amerika. Perusahaan ini tumbang pada September 2025 bukan karena teknologinya jelek. Mereka punya pesanan US$25 juta yang tidak bisa dikonversi jadi pendapatan karena harus menunggu sertifikasi UL tambahan — dan investor tak mau mendanai masa jeda itu. Sekitar US$363 juta modal hangus. Pelajarannya tajam: sertifikasi adalah variabel arus kas, bukan catatan kaki.

Kedua, Faradion di Inggris. Salah satu pionir riset SiB dunia ini tidak menemukan kapital industrialisasi di dalam negeri, sehingga seluruh kekayaan intelektualnya — delapan keluarga paten — dibeli Reliance dari India senilai US$135 juta. Riset kelas dunia berakhir jadi ekspor IP. Bagi kita di Indonesia, ini peringatan yang sangat relevan.

Dua Pelajaran Mahal dalam Balapan Sodium-Ion NATRON (AS) — TUTUP 2025 pesanan US$25 jt terkunci menunggu sertifikasi UL arus kas berhenti → US$363 jt hangus PATEN ×8 Faradion (Inggris) US$135 jt India — Gigafactory 30 GWh riset tanpa kapital industrialisasi = ekspor IP
Gambar 2 — Dua kegagalan yang jadi guru: Natron tumbang oleh sertifikasi, Faradion kehilangan patennya ke luar negeri.

Lesson Learned dari Masing-Masing Negara

Kalau setiap negara adalah guru, begini catatan yang saya bawa pulang:

  • 1
    China — skala dan keberagaman kimia berjalan bersamaan. Layered oxide dan NFPP dikembangkan paralel oleh pemain berbeda, lalu langsung diuji di aplikasi nyata: grid, EV, sampai truk berat. Riset dan pasar tidak pernah dipisahkan.
  • 2
    Jepang — kalah start bukan alasan ikut-ikutan. Daripada mengejar China di lintasan yang sama, Jepang memilih ceruk yang belum tersentuh: natrium all-solid-state berbasis glass-ceramic untuk aplikasi ekstrem, dipayungi program nasional NEDO.
  • 3
    Korea Selatan — rantai pasok menarik industri, bukan sebaliknya. Pilot line LGES tahap lanjut justru dibangun di Nanjing, China, karena material dan ekosistemnya ada di sana. Modal besar pun tunduk pada gravitasi rantai pasok.
  • 4
    India — membeli waktu itu sah. Reliance mengakuisisi IP Faradion, menggabungkannya dengan skema insentif PLI, lalu membangun gigafactory 30 GWh — melompati satu dekade riset dengan kapital plus kebijakan.
  • 5
    Amerika Serikat — material melimpah tidak otomatis jadi industri. Sekitar 92% cadangan terbukti soda ash alami dunia ada di Wyoming, tapi itu tidak menyelamatkan Natron. Kapabilitas konversi battery-grade dan arus kas sertifikasi sama pentingnya dengan tambang.
  • 6
    Inggris — riset tanpa kapital berakhir menjadi ekspor IP. Faradion dan AMTE sama-sama pionir yang akhirnya diserap negara lain. Keunggulan akademik harus dikaitkan sejak awal dengan pembiayaan industrialisasi.
  • 7
    Prancis & Swedia — kecil boleh, asal fokus dan berakar lokal. Tiamat menekuni kimia NVPF fast-charge, Altris menggarap Prussian White dan hard carbon dari lignin kayu Nordik. Keduanya spin-off kampus yang memilih satu keunggulan spesifik.
  • 8
    Indonesia — punya bahan, belum punya orkestrasi. Riset kita hidup di ITS, UB×Osaka, Universitas Pertamina, dan UNPAR — tapi berjalan sendiri-sendiri tanpa payung program nasional. Padahal ada dua aset nyata: biomassa untuk hard carbon dan pabrik soda ash Bontang yang ditargetkan beroperasi Maret 2028.

Pendapat saya: pelajaran Swedia paling dekat dengan kondisi kita. Altris membuktikan hard carbon dari biomassa lokal itu bankable. Sekam padi dan tempurung kelapa kita adalah analog tropisnya, dengan volume jauh lebih besar. Kalau ada satu segmen balapan yang bisa dimenangkan hari ini — bukan 2028 — ya di situ.

Kesimpulan

Balapan baterai sodium-ion dunia sudah masuk babak yang menentukan. China unggul bukan karena paling pintar, tapi karena paling cepat menyambungkan riset, modal, rantai pasok, dan kebijakan menjadi satu garis lurus. Negara yang gagal — Amerika lewat Natron, Inggris lewat Faradion — justru gagal di sambungannya, bukan di teknologinya.

Untuk Indonesia, pesannya sederhana: jangan biarkan riset berhenti di publikasi seperti Inggris, dan jangan anggap kekayaan alam otomatis jadi keunggulan seperti di Amerika. Kita butuh payung program nasional yang menyambungkan kampus, pabrik soda ash Bontang, dan potensi biomassa — sebelum lap berikutnya dimulai tanpa kita.

Catatan integritas data: Tulisan ini dirangkum dari sumber terbuka yang bisa ditelusuri pembaca. Beberapa klaim populer sengaja tidak dimasukkan karena gagal validasi — termasuk klaim “dana riset SiB Indonesia US$150 juta/tahun” yang tidak ditemukan dasar regulasinya di sumber pemerintah manapun. Proyeksi dan jadwal proyek adalah target perusahaan, bukan realisasi.

Dukung Blog Ini
Hubungi haidarahmad.id

Referensi

  1. IEA (2025). Global Critical Minerals Outlook 2025 — Beyond NMC batteries: supply chain issues for emerging battery technologies. International Energy Agency. iea.org/reports/global-critical-minerals-outlook-2025
  2. IEA (2026). Sodium-ion battery momentum grows, but challenges remain. Komentar IEA, 17 Februari 2026. iea.org/commentaries/sodium-ion-battery-momentum-grows-but-challenges-remain
  3. USGS (2025). Mineral Commodity Summaries 2025: Soda Ash. United States Geological Survey. pubs.usgs.gov/periodicals/mcs2025/mcs2025-soda-ash-ver.1.0.pdf
  4. Wathoni, H., dkk. (2025). Comprehensive review of sodium-ion battery materials. ChemPhysMater 4(4):344–359. doi.org/10.1016/j.chphma.2025.06.003
  5. Chemical & Engineering News — ACS (2022). Reliance acquires sodium-ion battery maker Faradion. pubs.acs.org/doi/10.1021/cen-10002-buscon4
  6. IEEE Spectrum (2025). Analisis penghentian operasi Natron Energy. spectrum.ieee.org/natron-sodium-ion-battery-failure
  7. Horizon Magazine — Komisi Eropa (2024). Pass the salt please, the power lies within (Tiamat, Altris, dan konteks riset SiB Eropa). projects.research-and-innovation.ec.europa.eu
  8. Nippon Electric Glass (2023, 2024). Rilis resmi baterai natrium all-solid-state glass-ceramic. neg.co.jp/en/news/20230302-6452.html · neg.co.jp/en/news/news_20240821.html
  9. Universitas Brawijaya (2024). Kolaborasi riset UB dan Osaka University kembangkan baterai ion sodium. prasetya.ub.ac.id
“Sukses Selalu di Darat, Laut dan Udara” — haidarahmad

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Translate to: »