Image by Freepik

Potensi Kendaraan Listrik di Indonesia

Potensi kendaraan listrik (EV) di Indonesia masih menjadi perhatian. Dalam survei terbaru tahun 2024 yang dilakukan oleh tSurveyid bersama Katadata Insight Center, ditemukan beberapa insight menarik terkait hal tersebut. Survei ini mengungkapkan persepsi masyarakat tentang kendaraan listrik, baik dari sisi kekhawatiran maupun daya tariknya.

Kekhawatiran Utama terhadap Kendaraan Listrik

Hasil survei menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki sejumlah kekhawatiran terkait penggunaan kendaraan listrik, di antaranya:

  1. Jarak Tempuh Terbatas (71,5%)
    Banyak masyarakat merasa ragu dengan kemampuan kendaraan listrik untuk menempuh jarak yang cukup jauh.
  2. Kurangnya Infrastruktur Charging (70,4%)
    Ketersediaan stasiun pengisian daya listrik yang masih terbatas menjadi hambatan. Banyak responden merasa kesulitan untuk mengakses charging station, terutama di luar kawasan perkotaan.
  3. Harga yang Masih Mahal (42,8%)
    Kendaraan listrik dianggap memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil, baik dari segi pembelian awal maupun biaya penggantian baterai.

Kekhawatiran ini, menurut pendapat saya karena kurangnya edukasi yang terstruktur dan masif kepada masyarakat pola pemakaian, ekosistem dan keuntungan dari  kendaraan listrik. Hal ini mengindikasikan perlunya upaya lebih lanjut dari pemerintah, pelaku industri, dan pihak terkait untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada publik secara terstruktur dan massif. Edukasi di berbagai media khususnya sosial media yang mempunyai jangkauan sangat luas di masyarakat Indonesia.

Dari beberapa diskusi yang saya lakukan kepada masyarakat awam masih perlu pemahaman bagaimana menggunakan kendaraan listrik. Masih banyak kesalahpahaman terhadap kendaraan listrik yang menybabkan keenganan untuk menggunkan kendaraan listrik.

infrastruktur kendaraan listrik
Keterbatasan SPKLU masih menjadi momok untuk menggunakan kendaraan listrik

Potensi dan Daya Tarik Kendaraan Listrik

Di balik kekhawatiran tersebut, survei tersebut juga menemukan bahwa kendaraan listrik memiliki daya tarik yang kuat bagi masyarakat, antara lain:

  1. Ramah Lingkungan (77,9%)
    Sebagian besar responden tertarik pada kendaraan listrik karena kontribusinya dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung lingkungan yang lebih bersih.
  2. Biaya Operasional Rendah (54,3%)
    Kendaraan listrik menawarkan efisiensi biaya, terutama dari sisi biaya energi dan perawatan karena komponen penggerak yang lebih sederhana.
  3. Teknologi Canggih (49,5%)
    Responden juga mengapresiasi fitur-fitur canggih yang biasanya disematkan pada kendaraan listrik. Bagi beberapa responden hal ini menjadi salah satu pembeda dengan kendaraan bahan bakar.

Dengan adanya potensi tersebut, dengan sosialisasi dan promosi yang tepat, maka akselerasi penggunaan kendaraan listrik dapat terjadi. Keinginan untuk menumbuhkan ekosistem kendaraan listrik ini yang harus selaras dari berbagai pihak, baik pemerintah, ataupun swasta.

kendaraan listrik futuristik
Kendaraan listrik yang futuristis menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat

Strategi Mendorong Adopsi Kendaraan Listrik

Untuk mengatasi tantangan dan memaksimalkan potensi kendaraan listrik, melakukan langkah dua hal berikut menjadi hal penting:

  • Edukasi Publik: Kampanye edukasi yang masif dan terstruktur khususnya tentang manfaat, teknologi, serta cara penggunaan kendaraan listrik.
  • Kolaborasi Multisektor: Kerja sama antara pemerintah, perusahaan otomotif, dan institusi pendidikan untuk mendorong riset dan inovasi kendaraan listrik yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Kesimpulan

Hasil survei tSurveyid dan Katadata Insight Center 2024 menunjukkan bahwa meski masih ada kekhawatiran yang dominan terhadap kendaraan listrik, daya tariknya yang ramah lingkungan, hemat biaya, dan berteknologi canggih membuka peluang besar bagi pertumbuhan industri ini. Keinginan untuk menumbuhkan ekosistem kendaraan listrik menjadi sangat penting untuk menodorong penggunaan kendaraan listrik. Membangun ekosistem harus merupakan hasil “kesepakatan” bersama baik perusahaan otomotif dan atributnya, serta pemerintah untuk mencapai tujuan bersama.

“Sukses Selalu di Darat, Laut dan Udara”