Tanggal 30 September 2025 saya mengisi sharing session di kantor dan tema yang ajukan adalah terkait dengan berkenalan dengan BESS (Battery Energy Storage System). Sesi sharing tersebut akan saya tuliskan secara naratif pada postingan kali ini. Karena bisnis kantor yang saat ini berkaitan dengan telekomunikasi dan atas permintaan atasan saya agar berkaitan dengan bisnis di kantor maka judul dari sharing session yang saya bawakan adalah “Mengenal BESS dan Perannya untuk Jaringan Telekomunikasi”.
Mengenal BESS (Battery Energy Storage System)
Di awali dengan definisi dari BESS yaitu sistem terintegrasi untuk menyimpan energi listrik yang menggunakan teknologi baterai isi ulang (electrochemical) sehingga energi listrik dapat digunakan di kemudian hari.
Dalam penjelasan ini saya menyampaikan bahwa BESS ini merubah pemahaman saya tentang listrik pada saat saya beru pertama kali masuk dalam industri ketenagalistrikan. Hal itu adalah di mana energi listrik jika dalam skala besar setelah proses pembangkitan maka pemanfaatan energi tersebut harus segera (tidak dapat disimpan). Pada saat itu sekitar tahun (2008-2009) mungkin hal ini benar karena teknologi baterai saat itu mungkin masih belum seperti saat ini. Baterai saat ini sudah memiliki densitas energi yang lebih baik sehingga memungkinkan menyimpan energi dalam kapasitas besar.
Apa itu BESS
Secara sederhana, BESS adalah sebuah sistem penyimpanan energi yang menggunakan teknologi baterai isi ulang. Penyimpanan energi dari jaringan listrik PLN saat beban sedang rendah, atau dari sumber energi terbarukan seperti panel surya dan turbin angin saat produksi sedang melimpah. Kemudian pelepasan energi pada saat permintaan listrik tinggi (peak demand) atau saat pasokan utama terputus.
Sebuah sistem BESS terdiri dari beberapa komponen utama yang bekerja secara sinergis:
- Baterai (Cell, Module, Pack): Inti dari BESS yang berfungsi sebagai penyimpan energi. Saat ini, jenis yang paling populer adalah baterai Lithium-Ion.
- Battery Management System (BMS): Bertindak sebagai “otak” yang memonitor dan mengendalikan kondisi setiap sel baterai agar beroperasi secara optimal dan aman.
- Power Conversion System (PCS): Perangkat pintar yang mengubah arus listrik dari DC (arus searah) pada baterai menjadi AC (arus bolak-balik) atau sebaliknya saat pengisian.
- Energy Management System (EMS): Pengendali utama yang menentukan kapan BESS harus mengisi (charging) dan kapan harus melepas energi (dis-charging).
- Sistem Pendukung: Termasuk di dalamnya sistem manajemen termal (Thermal Management System) dan sistem keselamatan (seperti pemadam api) untuk memastikan BESS beroperasi dengan aman.
Peran Vital BESS dalam Transisi Energi Hijau
Salah satu tantangan terbesar dari energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin adalah sifatnya yang intermittent atau tidak stabil—hanya tersedia saat ada matahari atau angin. Di sinilah BESS memainkan peran kuncinya. BESS mampu menyimpan kelebihan energi pada siang hari atau saat angin kencang, lalu menyediakannya saat malam hari atau ketika tidak ada angin. Hal ini menjadikan pasokan listrik dari energi terbarukan lebih andal dan stabil, mendukung target pemerintah dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034. Dalam skala jaringan listrik yang lebih besar, BESS memiliki banyak fungsi, seperti peak shaving (memangkas beban puncak), stabilisasi frekuensi, dan peningkatan kualitas daya.
BESS untuk Kebutuhan Telekomunikasi yang Tanpa Henti
Berkaitan dengan paparan yang saya sampaikan, mengenai BESS dengan infrastruktur telekomunikasi, mulai dari menara BTS, data center, hingga titik koneksi fiber optik (Point of Presence – PoP), membutuhkan pasokan listrik yang tidak boleh terputus (uninterrupted) dan berkualitas tinggi. Selama ini, industri telekomunikasi mengandalkan kombinasi dari UPS (Uninterruptible Power Supply) dan Genset Diesel sebagai cadangan daya.
Namun menurut pendapat saya, BESS hadir sebagai alternatif yang lebih unggul:
Seperti yang terlihat pada perbandingan di atas, BESS menawarkan fleksibilitas yang jauh lebih tinggi. Salah satu keunggulan utamanya untuk infrastruktur telekomunikasi adalah kemampuannya menyediakan pasokan listrik dengan Zero Transfer Time atau tanpa jeda sama sekali, setara dengan UPS namun dengan durasi yang jauh lebih panjang. Ini memastikan perangkat jaringan yang sensitif tidak mengalami reboot saat terjadi perpindahan sumber daya.
Tinjauan dari Sisi Finansial
Meskipun biaya investasi awal (CAPEX) untuk BESS tergolong tinggi, biaya operasional (OPEX) dan perawatannya sangat rendah jika dibandingkan dengan Genset. Sebuah simulasi untuk kebutuhan daya 11 kVA dengan rasio backup power 1:1 menunjukkan bahwa biaya energi dan perawatan tahunan BESS lebih efisien. Selain itu, masa pakai sistem BESS bisa mencapai 10-15 tahun, lebih lama dibandingkan siklus penggantian baterai UPS konvensional (3-5 tahun). Potensi BESS tidak hanya sebatas sebagai cadangan daya. Fleksibilitasnya memungkinkan pemanfaatan untuk peak shaving atau energy arbitrage (jual-beli listrik berdasarkan perbedaan harga), yang dapat memberikan penghematan biaya tambahan bagi perusahaan.
Masa Depan BESS
Teknologi BESS masih terus berkembang dan berikut beberapa teknologi yang saat ini masih dalam tahap riset berbagai ahli di seluruh dunia. Harapan di masa yang akan datang BESS akan menjadi lebih powerful, ramah lingkungan dan penggunaannya yang aman.
Kesimpulan
BESS (Battery Energy Storage System) bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan solusi nyata yang sudah ada di depan mata dan terus berkembang. Dengan kemampuannya menjamin pasokan listrik yang andal, berkualitas, dan ramah lingkungan, BESS siap menjadi tulang punggung bagi infrastruktur telekomunikasi di era digital ini dan ketenagalistrikan secara umum.
“Sukses Selalu di Darat, Laut dan Udara”