Catatan Harian: Bertarung dengan “Hantu Idealisme”

Arti dari idealisme yang saya kutip dari KBBI sebagai berikut.

idealisme/ide·al·is·me/ /idéalisme/ n 1 aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami; 2 hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna; 3 Sas aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan


Singkat kata, idealisme saya dapat artikan mengacu kepada kesempurnaan. Di sisi lain kesempurnaan itu seperti apa? Saya yakin setiap manusia mendefinisikan sempurna secara berbeda, hal ini dipengaruhi oleh pengalaman hidup, lingkungan keluarga, lingkungan pertemanan, pendidikan, dan faktor-faktor lainnya baik internal ataupun eksternal. Dan inilah mengapa saya sebut “hantu idealisma”. “Hantu” karena wujudnya yang abstrak, terkadang mengganggu walau kita belum bisa yakin apakah keberadaannya ada atau tidak. Jadi “hantu idealisme” adalah rasa keingingan atas kesempuraan dengan wujud yang masih abstrak dan selalu mengganggu sehingga berdampak pada perilaku seseorang.

Pertarungan dengan “hantu idealisme” terjadi karena sikap idealisme yang dianut memiliki gap yang sangat besar dengan kenyaan yang ada. Saya akan coba gambarkan pertarungan ini dengan sebuah cerita analogi.

Seorang pria mapan memiliki gambaran bahwa bangunan rumah harus terdiri dari:

  • 1 ruang tamu
  • 1 ruang keluarga
  • 1 dapur
  • 1 kamar mandi
  • 2 kamar tidur

Kemudian  tidak lama pria tersebut mulai membangun rumah yang ideal tersebut. Dalam perjalan pembangunan rumah tersebut dengan anggaran yang tersedia, terjadi masalah yaitu 1 kamar tidur tidak dapat dibangun. Hingga akhirnya rumah tersebut selesai dan dihias dengan baik, namun 1 kamar tidur tidak berhasil dibangun.

Disinilah terjadi pertarungan batin pada sang pria itu. Walau rumah tersebut sudah cukup indah, namun sang pria selalu saja mengeluh, menggerutu dan bahkan sampai marah karena rumah yang telah dibangunannya tidak sesuai dengan apa yang menurutnya rumah ideal. Inilah yang saya sebut dengan “Pertarungan dengan Hantu Idealisme”

Pertarungan tersebut seharusnya tidak diperlukan, tidak perlu mengeluh, tidak perlu menggerutu, apalagi marah cukup terima kenyataan dan syukuri bahwa itulah kemampuan si pria dalam membangun rumah yang memiliki 1 kamar tidur. Secara fungsi, rumah tersebut berfungsi 100% karena si pria masih hidup sendiri, bahkan ketika sudah menikah dan punya anak 1 orang pun masih memungkinkan untuk tinggal di rumah itu. Dan untuk menambah kamar masih ada kesempatan dikemudian hari ketika kemampuan si pria mencukupi untuk membangun 1 kamar tidur lagi.


Jadi inilah pertarungan dengan hantu idealisme yaitu pertarungan yang sebenarnya tidak perlu ada, pertarungan yang hanya dibuat karena pikiran kita sendiri karena tidak bisa menerima kenyataan.

Syukuri kondisi saat ini dan berusaha kembali serta berdoa untuk mencapai kesempurnaan yang diidamkan. Mungkin kesempurnaan tidak akan pernah kita capai namun berusaha untuk mencapai kesempurnaan itu harus dan nikmatilah prosesnya agar menjadi insan yang lebih baik.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *